Saksi Mata
Karya: Seno
Gumira Ajidarma
Naskah:
Kusprihyanto Namma
Pemain:
1.
Saksi
mata
2.
Hakim
3.
Tukang
potret
4.
Dalang
Dalang : Selamat siang
saudara-saudara, kembali lagi bertemu dengan saya. Kali ini saya mempunyai
cerita yang cukup seru. Tentang kisah seorang saksi mata. Seperti kia ketahui
sendiri, di negri kita perlindungan terhadap saksi mata tidak ada, sehingga
jarang ada orang yag bersedia menjadi saksi mata. Oleh sebab itu, praktisi
hukum sedang merumuskan undang-undang perlindungan untuk saksi mata. Semoga
mereka berhasil. Agar saya tidak banyak bicara ngalor-ngidul yang gak jelas
maksudnya, marilah kita saksikan saja saksi mata kita yang berani ini
Into musik:
ya..ya..ya..yayaya (berulangkali)
Diruang pengadilan harus dicari
Keadilan, keadilan, keadilan hakiki
Bukan tipudaya bukan basa-basi
Rakyat berhak tau apa yang terjadi
ya..ya..ya..yayaya (berulangkali)
Saksi mata : (masuk ke ruang pengadilan dengan tangan
meraba-raba udara. Tersandung jatuh. Duduk dan keliru. Ada seseorang
menuntunya. Didudukan pada tempatnya)
Dalang : Saudara-saudara,
dilihat dari cara duduknya ia sangat PeDe. Padahal ia sudah tidak punya mata.
Lihat darah yang menetes dari kedua belah matanya (mencoretkan sepidol). Ketika
ia datang kesini darahnya belum kering. Masih menetes dan terus menetes. Lihat
tetesan darahnya membasahi baju, celana dan juga celana dalamnya. MasyaAllah.
Ia benar-benar tidak merasakan kesakitan. Ia Cuma ingin memberikan kesaksian. (pause) juru potret. Potret dia.
Tukang potret:
Satu dua tiga potret
Satu dua tiga potret (berulang kali dengan posisi macam-macam)
Dalang : Yang terhormat
bapak hakim memasuki ruang pengadilan saudara saksi mata dimohon untuk berdiri.
Hakim : (masuk dengan segera mengetukkan palunya)
saudara saksi mata silahkan duduk. (pause)
hai jangan duduk di lantai. Duduklah dikursi. (pause) nah begitu. Saya hakim ketua yang memimpin persidangan ini.
Tak kenal maka tak sayang. Nama saya raden mas paijo sarjana hukum, nama
panggilan joni. Joni raja guguk. Oke, peraturan pertama persidangan ini adalah
bila hakimmu yang ganteng ini memulai persidangan penonton harus tenang. Siapa
yang mencoba mengganggu jalannya persidangan akan aku lempar sepatu. Harus
keluar dari tempat yang sewangi bunga ini. Mengerti?
Penonton : Mengerti pak
hakiiiim
Hakim :
Heee
jangan menjawab dengan mulut. Bau, bau jengkolmu sampai kesini. Dan itu sangat
berisik, cukup dengan mengangguk. Paham!
Penonton : Pahaaaaam
Hakim :
Oooo
wedus! Jangan menjawab dengan mulut. Itu sangat berisik, cukup dengan
mengangguk. Tau
Penonton :(mengangguk)
Hakim : Nah begitu.
Sebagai warganegara yang baik. Kalian harus patuh. Seperti anak TK. Ok (perhatian ke saksi mata) eh! Saudara
saksi mata
Saksi mata : (asyik ngileni kuping. Tertawa geli sendiri)
Hakim : Saudara saksi
mata, (tetap tidak diperhatikan) (teriak)
saudara saksi mata!
Saksi mata : (glagepan) eee saya pak
Hakim :
Kamu mau mencoba menghina pengadilan ya
Saksi mata : Tidak pak,
tanpa dihina pun pengadilan kan sudah terhina dengan sendirinya
Hakim : Apa katamu
Saksi mata : Bukankah begitu?
Aparat keadilan semua prilakunya mengakibatkan pengadilan jadi tidak punya
wibawa. Gampang disuap. Gampang ditumpangi. Gampang diombang-ambingkan oleh
penguasa politik
Hakim : Baji....!
Saksi mata : Eeeiittt.... Orang
berpendidikan dilarang misuh
Hakim : Darimana kamu
tahu aku akan misuh
Saksi mata : Pegawai dinegara
kita bila ditunjukkan kebenaran yang semestinya, bukannya bersyukur. Biasanya
malah misuh
Hakim : Cukup, saudara
saksi mata
Saksi mata : Saya pak
Hakim : Dimanakah mata
saudara?
Saksi mata : Diambil orang
pak
Hakim : Diambil orang?
Saksi mata : Saya pak
Hakim : Tidak kamu
cegah
Saksi mata : Tidak pak
Hakim : Diambilnya dengan
jalan operasi?
Saksi mata : Tidak pak
Hakim : Tidak operasi.
Bagaimana mungkin. Mengambil mata kan susah
Saksi mata : Tapi ini tidak
opersi pak
Hakim :
Jangan
bohong
Saksi mata : Sumpah pak,
saya tidak bohong
Hakim : Lalu bagaimana
mengambilnya?
Saksi mata : Diambil pake
sendok pak.
Hakim : Pakai sendok?
Saksi mata : Saya pak
Hakim : Sulit dipercaya
Saksi mata : Tapi itulah
kenyataannya. Mata saya diambil pake sendok
Hakim : Untuk apa?
Saksi mata : Sayatidak tahu
pak. (pause) Cuma katanya mau dibuat gule pak
Hakim : Dimasak gule?
Huueeekkk. Mejijikkan. Keterlaluan. Siapa yang bilang begitu
Saksi mata : Yang mengambil
mata saya pak
Hakim : Saya tahu
bego’. Maksud saya siapa yang mengambil matamu pake sendok itu?
Saksi mata : Wah, dia tidak
bilang siapa namanya pak
Hakim :
Saudara
tidak bertanya sma sekali
Saksi mata : Tidak sempat
pak
Hakim : Dengar baik-baik
bego’. Maksud saya seperti apa orang itu. Sebelum mata saudara diambil pakai
sendok yang katanya mau dibuat gule itu. Sebelum hilang mata saudara kan msih
ada ditempatnya. Masih bisa melihat?
Saksi mata : Saya pak
Hakim : Jadi saudara
masih bisa melihat seperti apa orangnya kan?
Saksi mata : Jelas bisa. Bisa ngintip sih. Rupa
orang selalu jelas
Hakim : Aha! Coba ceritakan
apa ya ng dilihat mata saudara, yang sekarang mungkin sudah dimakan para
penggemar gule mata itu?
Saksi mata : Ada jaminan untuk saya pak
Hakim : Saudara takut?
Saksi mata : Terlalu banyak orang diculik setelah
menyampaikan kebenaran
Hakim : Harga kebenaran
memang mahal
Saksi mata : Lebih mahalan nyawa donk
Hakim : Nyawa itu
murah. Yang mahal kekuasaan. Karena kekuasaan beribu-ribu nyawa ditumbalkan
Saksi mata : Bila memperoleh jaminan keamanan saya
berani mengatakan
Hakim : Kau dijamin
aman
Saksi mata : Ada beberapa orang
Hakim : Berapa
Saksi mata : Hemmm.... lima pak
Hakim : Lima apa empat
Saksi mata : Hem. Kayaknya empat
Hakim : Empat apa enam
Saksi mata : Hem. Sepertinya enam pak
Hakim : Enam apa lima
Saksi mata : Lima
Hakim : Lima atau
tujuh
Saksi mata : Lima
Hakim : Tujuh atau
sembilan
Saksi mata : Lima. Lima pak
Hakim : Nah begitu.
Harus tegas. Jangan mencla-mencle. Orang yang mencla-mencle bisa-bisa jadi
mentri atau sialnya jadi bupati
Saksi mata : Ya, lima pak
Hakim : Seperti apa
mereka?
Saksi mata : Saya tidak sempat meneliti pak, habis
keburu mata saya diambil sih
Hakim : Masih ingat
pakainnya barangkali
Saksi mata :Yang jelas mereka berseragam pak
Penonton/pemusik:
(gemuruh musik
menggambarkan gaduh pengadilan) pasti tentara, bukan polisi, intel,
intel, agen negara, mungkin orang asing, provokator.
Hakim : (mengetuk palu berulang-ulang) tenang.
Harap tenang. Yang tidak bisa tenang, keluar. Out. Oke, (pause) saudara saksimata
Saksi mata : Saya pak
Hakim : Seragam tentara
maksudnya
Saksi mata : Bukan pak
Hakim : Hansip barangkali
Saksi mata : Juga bukan pak
Hakim : Seragam satgas
partai politik atau ormas
Saksi mata : Bukan
Hakim : Jangan-jangan
seragam pramuka
Saksi mata : Bukan pak. Bukan. Itu lho yang
hitam-hitam sepeti di film
Hakim : Mukanya ditutupi
Saksi mata : Iya pak, Cuma kelihatan matanya doank
Hakim : Ahhh. Saya tau
sekarang. Ninja kan
Saksi mata : Nah itu pak. Tinja
Hakim : Bukan tinja,
tapi ninja
Saksi mata : Apa bedanya, ninja kan juga punya
tinja.
Dalang : Saudara-saudara
sungguh menyedihkan persidangan ini. Saksi mata tidak dapat jaminan makan atau
minum karena hal demikian dilarang di pengadilan. Sementara darahnya terus
menetes. Menggenangi lantai. Memenuhi ruang pengadilan. Ya. Ya boleh
menghindari darah itu. Celananya bisa dicincing. Roknya juga boleh dinaikkan.
Tapi jangantinggi-tinggi. Yang disini semuanya tegangan tinggi. (pause) monggo
pak hakim diteruskan
Hakim : Saudara saksi
mata
Saksi mata : Saya pak
Hakim : Ngomong-ngomong
kenapa saudara diam saja ketika mata saudara hendak diambil pakai sendok
Saksi mata : Lha mereka berlima pak
Hakim : Takut
Saksi mata : Ya harus takut pak. Kalau tidak takut
dikira dukun. Bisa-bisa saya dimassa kerena dianggap dukun santet atau dukun
cabul
Hakim : Maksud saya,
saudara kan bisa minta tolong orang. Saudara bisa teriak-teriak (mempraktikkan teriak) atau
melempar-lempar barag membikin kegaduhan atau ngapain lah yang penting tetangga
saudara mendengar keributan lalu rame-rame datang menolong. Rumah saudara kan
di gang kumuh. Orang mencium istrinya saja terdengar. Apalagi yang lainnya. Ya
kan?. Orang berbisik saja terdengar. Apalagi kalau saudara teriak. Tapi kenapa
saudara diam saja?
Saksi mata : Habis terjadinya di dalam mimpi sih pak
Penonton : (tertawa) hahaha lucu. Gak masuk akal
Hakim : (mengetuk palu) coba tenang sedikit. Ini
ruang pengadilan, bukan srimulat atau ruang dagelan. Tenang. Saudara saksi mata
tadi mengatakan terjadinya di dalam mimpi. Apakah maksud saudara kejadiannya
begitu cepat seperti dlam mimpi?
Saksi mata : Bukan begitu pak. Bukan seperti mimpi
tapi memang terjadinya di dalam mimpi. Itu sebabnya saya diam saja ketika
mereka mau menyendok mata saya.
Hakim : Saudara serius
Saksi mata : Sangat serius
Hakim : Tidak berbohong
Saksi mata : Tidak pak
Hakim : Jangan main-main
ya, nanti saudara mengucapkannya dibawah sumpah
Saksi mata : Siap pak. Saya diam saja karena saya
pikir toh terjadinya Cuma dalam mimpi. Saya malah ketawa-ketawa pak waktu
mereka bilang mau dibuat gule. Saya malah minta. Rasnya seperti apa sih gule
mata manusia. Apa ya seenak gule wedus pak. hahaha
Hakim : Jadi menurut saksi
mata sgenap pengambilan mata itu hanya terjadi dalam mimpi
Saksi mata : Bukan menurut saya pak. Memang bener
terjadinya da dalam mimpi
Hakim : Saudara sedang
tidak gila kan
Saksi mata : Alhamdulillah belum pak
Hakim : Bisa memberi
keterangan tambahan
Saksi mata : Banyak saksi mata yang lain yang tau
kalau sepanjang malam saya Cuma tidur. Tidur dan tidur. Dan selama tidur tak
ada tamu atau orang yang mengganggu saya pak.
Hakim : Jadi terjadinya
pasti didalam mimpi ya.
Saksi mata : Iya. Pak hakim meragukan kesaksian
saya?
Hakim : Sulit dipercaya.
Sebab sewaktu saudara terbangun mata sudara sudah tidak ada
Saksi mata : Betul pak. itu yang saya bingung.
Kejadiannya didalam mimpi tapi waktu bangun kok ternyata betul-betul ya?
Hakim : (geleng-geleng minum obat sakit kepala) absurd
Dalang : Lapor! Darah
saksi mata sudah sampai jalan raya. Laporan selesai
Hakim : Saudara saksi
mata
Saksi mata : Saya pak
Hakim : Apakah saudara
masih bisa bersaksi
Saksi mata : Siap pak. itu sebabnya saya datang ke
pengadilan ini lebih dulu ketimbang ke dokter mata pak
Hakim : Meski sudah
tidak bermata saudara masih bisa mengingat semua kejadian
Saksi mata : Saya pak
Hakim : Mulai dari
mana
Saksi mata : Mulai dari mereka yang ditembak
kepalannya. Diperkosa istri anak-anaknya. Dirobek perutnya. Digantung.
Dipenggal kepalannya
Hakim : Saudara juga
ingat bagaimana mereka menembak serampangan dan orang-orang tumbang seperti
pohon pisang ditebang
Saksi mata : Nyawa manusia dan binatang sama tidak
berharganya. Jerit tangisan dianggap musik dangdut yang mesti dilengkapi goyang
pinggul. Sungguh menyedihkan. Yang saya herankan bagaimana mereka dipercaya
pegang senjata. Hingga peluru yang dimuntahkan seperti anjing muntah
disembarang tempat
Hakim : Jadi saudara
masih ingat darah yang mengalir. Orang yang menyerang. Mereka yang setengah
mati ditusuk lagi dengan pisau sampai betul-betul mati.
Saksi mata : Saya pak
Hakim : Ingatlah semuai
itu baik-baik, karena meskipun banyak saksi mata, tapi tidak satu pun yang
bersedia menjadi saksi di persidangan kecuali saudara.
Saksi mata : Saya pak
Hakim : Sekali lagi,
apakah saudara saksi mata masih bersedia bersaksi?
Saksi mata : Saya pak
Hakim : Kenapa
Saksi mata : Demi keadilan dan kebenaran pak
Penonton : (bertepuk riuh)
Hidup. Hidup. Hidup saksi mata
Teruslah bersaksi. Beri kesaksian
Hidup. Hidup. Hidup saksi mata
Sampaikan kebenaran tegak keadilan
Hakim : Huus! Jangan
kampanye disini. Sidang hari ini ditunda, dimulai besok untuk mendengar
kesaksian saudara saksi mata yang sudah tidak punya mata lagi. (mengetuk palu. Kali ini palu patah)
Tukang potret:
Action. Satu dua tiga potret (Berkali-kali)
Hakim : (exit/keluar ruangan)
Dalang : Saudara-saudara
cerita ini belum selesai. Bahkan cerita ini akan baru dimulai. Maka anda harus
bersabar menunggu kelanjutan cerita saksi mata kita ini. Oh. Iya! Darahnya
sudah mengalir kemana-mana.
Saksi mata : (tertidur)
tiba-tiba muncul 5 orang berseragam ninja
Ninja : Hallo
Saksi mata : Hallo juga
Ninja : Masih ingat
saya frends
Saksi mata : Yang ngambil mata saya kan?
Ninja : Ya. Ingatanmu
bagus
Saksi mata : Sekarang kalian mau apa?
Ninja : Aku minta
lidahmu
Saksi mata : Untuk apa?
Ninja : Sate
Saksi mata : Nanti aku minta ya?
Ninja : Boleh
Saksi mata : Nih
Ninja : (mengeluarkan catut mencoba mencabut lidah
saksi mata)
Teater
Magnit Ngawi
Revisi
22 Agustus 2006
Be the first to reply!
Posting Komentar