November 26, 2015

Berguru Pada Romo Mangunwijaya

 
Judul buku      : Kotak Hitam Sang Burung Manyar, Kebijaksanaan dan Kisah Hidup Romo Mangunwijaya
Penulis             : Y. Suyatno Hadiatmojo, Pr.
Penerbit           : Galang Press
Tahun terbit     : 2012
Halaman          : x + 110 hlm
ISBN               : 978-602-8174-89-3
Peresensi         : Muhtar S. Hidayat*


Romo Mangun adalah seorang rohaniawan Katolik yang mendedikasikan hidupnya untuk kepentingan rakyat lemah yang terpinggirkan. Terlahir dengan nama lengkap Yusuf Bilyarta Mangunwijaya pada 6 Mei 1929 di Kabupaten Semarang, ia pernah mengalami masa revolusi fisik melawan Belanda untuk membebaskan negeri ini dari belenggu penjajahan yang menyengsarakan rakyat.
Semasa mudanya ia pernah bergabung ke dalam prajurit Tentara Keamanan Rakyat (TKR) batalyon X divisi III yang betugas di Benteng Vrederburg, Yogyakarta. Ia sempat ikut dalam pertempuran di Ambarawa, Magelang, dan Mranggen. Kecintaannya pada negeri ini ia wujudkan kembali dengan bergabung ke dalam wadah perjuangan Tentara Pelajar (TP) Brigade XVII sebagai komandan Tentara Pelajar Kompi Kedu.
Rangkaian peristiwa hidup di atas membuat Romo Mangun mengenal arti humanisme. Ia menyaksikan sendiri bagaimana rakyat Indonesia menderita, kelaparan, terancam jiwanya, dan bahkan mati sia-sia akibat aksi militer Belanda yang mencaplok wilayah republik. Berangkat dari pengalaman hidup inilah Romo Mangun bertekad untuk sepenuhnya mengabdikan diri pada rakyat.
Putu Wijaya, seorang dramawan dan novelis pernah bertutur. "Romo Mangun adalah seorang yang sangat dekat dengan rakyat. Selalu berpihak kepada yang tertindas. Salah satunya, kepeduliannya untuk warga Kali Code dan Kedung Ombo. Perhatiannya selalu kepada rakyat sederhana, miskin, disingkirkan, dan tertindas.
Memang tidak dapat dimungkiri perjuangan Romo Mangun dalam hal kemanusiaan begitu gigih. Hal ini dapat dilihat  ketika pemerintah hendak menggusur penduduk di bantaran kali code untuk membangun green belt (sabuk hijau) kota, ia menentang keras. Ketika penggusuran semakin nyata, ia bertekad untuk melawan dengan mogok makan/puasa. Hal ini terlihat dalam sebuah tulisannya yang tidak diterbitkan, penuh amarah Mangunwijaya menulis:
saya hanya ingin pada saatnya nanti menapaktilasi Nabi Isa dan Mahatma Gandhi, memohon dengan jalan tanpa kekerasan, antara lain dengan puasa/mogok makan. Dan, jika langkah tanpa kekerasan ini masih juga dianggap salah, maka saya siap untuk masuk penjara atau mati sekalipun. Saya sungguh tidak berambisi menjadi pahlawan. Bahkan saya akan iklas disebut Don Quichotte yang konyol atau sinting. Tidak apa. Asal saja suara dan nasib mereka diperhatikan, dihargai, keluarga-keluarga mereka tidak dirobek-robek, nasib mereka tidak dilempar-lempar sesuka selera seperti bungkus sampah.”
Itulah sekelumit ceritera mengenai perjuangan Romo Mangun, dan masih banyak hal yang bisa dipetik dari perjalanan hidupnya, karena semasa hidupnya ia temasuk manusia yang bisa dikatakan multidimensional. Begitu banyak bidang dan sisi kehidupan yang ia tekuni sehingga berbicara mengenai Romo Mangun seperti masuk kedalam samudra yang luas dan tiada habisnya. (hlm. v)
Romo Suyatno Hadiatmojo mencoba merekam perjalanan hidup Romo Mangun secara apik. Seperti disebutkan diatas begitu banyak hal yang bisa dilihat, dibahas, dan dianalisis dari sosok Romo Mangun. Hal ini tampak dalam buku ini yang memuat pelbagai gagasan, nasihat, kata bijak, serta ajaran yang disampaikan oleh Romo Mangun dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satu pesan Romo Mangun dalam hal berjuang untuk kemanusiaan adalah: “kalau kalian tertarik untuk terjun dalam bidang sosial-kemanusiaan, jangan menggantungkan pada belas kasih gereja atau lembaga. Seorang pemerhati kemanusiaan harus siap berjuang sendiri dan mandiri,” (hlm. 24)
Inilah yang menjadi ciri khas Romo Mangun ketika berjuang untuk membela kaum lemah. Ia tidak mau terikat oleh lembaga ataupun organisasi, karena jelas jika tergantung pada lembaga atau organisasi tertentu pasti tidak bisa bebas dan pastinya akan banyak dikendalikan oleh kepentingan lembaga tersebut.
Dari kisah perjuangan Romo Mangun ini kita harus instropeksi, masih adakah orang yang benar-benar tulus dan berkorban untuk rakyat Indonesia. Mengentaskan kemiskinan dan kebodohan tanpa adanya pamrih? Pertanyaan ini bukan untuk dicarikan jawaban, namun perlu  dijadikan sebuah perenungan bagi kita semua.
Kiranya perlu bagi seluruh lapisan masyarakat untuk mengerti dan meneladani perjuangan Romo Mangun ini. Walaupun tidak secara komprehensif mampu merekam semua perjuanagan Romo Mangun, namun dalam buku ini sudah ada banyak pelajaran yang bisa dijadikan pedoman hidup, entah dalam hidup bermasyarakat, berpolitik, maupun keutamaannya dalam sikap rela berkorban, khususnya kepada mereka yang lemah dan miskin.

* Peresensi adalah Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
* Resensi ini pernah dimuat di Harian Jakarta

 

Romeltea Media
MUHTAR S. HIDAYAT USIQ WONOSOBO Updated at:
Get Free Updates:
*Please click on the confirmation link sent in your Spam folder of Email*

1 komentar so far. What are your thoughts?

  1. Betfair Review 2021 ✔️ Is Betfair an impartial and reliable online
    Betfair is a gambling platform that can help you make better 아 샤벳 bets 포커 by providing more choices. For 양방배팅 this reason, many bookmakers use Betfair's 캔 토토 betting 피망 포커 현금화 software

    BalasHapus

 
back to top