Judul buku : Kotak Hitam Sang Burung Manyar, Kebijaksanaan dan Kisah Hidup Romo Mangunwijaya
Penulis : Y. Suyatno Hadiatmojo, Pr.
Penerbit : Galang Press
Tahun terbit : 2012
Halaman : x + 110 hlm
ISBN : 978-602-8174-89-3
Peresensi : Muhtar S. Hidayat*
Romo Mangun adalah seorang rohaniawan Katolik yang mendedikasikan hidupnya untuk kepentingan rakyat lemah yang terpinggirkan. Terlahir dengan nama lengkap Yusuf Bilyarta Mangunwijaya pada 6 Mei 1929 di Kabupaten Semarang, ia pernah mengalami masa revolusi fisik melawan Belanda untuk membebaskan negeri ini dari belenggu penjajahan yang menyengsarakan rakyat.
Semasa
mudanya ia pernah bergabung ke dalam prajurit Tentara Keamanan Rakyat (TKR)
batalyon X divisi III yang betugas di Benteng Vrederburg, Yogyakarta. Ia sempat
ikut dalam pertempuran di Ambarawa, Magelang, dan Mranggen. Kecintaannya pada
negeri ini ia wujudkan kembali dengan bergabung ke dalam wadah perjuangan Tentara
Pelajar (TP) Brigade XVII sebagai komandan Tentara Pelajar Kompi Kedu.
Rangkaian
peristiwa hidup di atas membuat Romo Mangun mengenal arti humanisme. Ia
menyaksikan sendiri bagaimana rakyat Indonesia menderita, kelaparan, terancam
jiwanya, dan bahkan mati sia-sia akibat aksi militer Belanda yang mencaplok
wilayah republik. Berangkat dari pengalaman hidup inilah Romo Mangun bertekad
untuk sepenuhnya mengabdikan diri pada rakyat.
Putu Wijaya, seorang dramawan dan novelis pernah bertutur.
"Romo Mangun adalah seorang yang sangat dekat dengan rakyat. Selalu
berpihak kepada yang tertindas. Salah satunya, kepeduliannya untuk warga Kali
Code dan Kedung Ombo. Perhatiannya selalu kepada rakyat sederhana, miskin,
disingkirkan, dan tertindas.
Memang tidak dapat dimungkiri
perjuangan Romo Mangun dalam hal kemanusiaan begitu gigih. Hal ini dapat
dilihat ketika pemerintah hendak menggusur penduduk di bantaran kali
code untuk membangun green
belt (sabuk hijau)
kota, ia menentang keras. Ketika penggusuran semakin nyata, ia bertekad untuk
melawan dengan mogok makan/puasa. Hal ini terlihat dalam sebuah tulisannya yang
tidak diterbitkan, penuh amarah Mangunwijaya menulis:
“saya hanya ingin pada saatnya nanti
menapaktilasi Nabi Isa dan Mahatma Gandhi, memohon dengan jalan tanpa
kekerasan, antara lain dengan puasa/mogok makan. Dan, jika langkah tanpa
kekerasan ini masih juga dianggap salah, maka saya siap untuk masuk penjara
atau mati sekalipun. Saya sungguh tidak berambisi menjadi pahlawan. Bahkan saya
akan iklas disebut Don Quichotte yang konyol atau sinting. Tidak apa. Asal saja
suara dan nasib mereka diperhatikan, dihargai, keluarga-keluarga mereka tidak
dirobek-robek, nasib mereka tidak dilempar-lempar sesuka selera seperti bungkus
sampah.”
Itulah
sekelumit ceritera mengenai perjuangan Romo Mangun, dan masih banyak hal yang
bisa dipetik dari perjalanan hidupnya, karena semasa hidupnya ia temasuk
manusia yang bisa dikatakan multidimensional. Begitu banyak bidang dan sisi
kehidupan yang ia tekuni sehingga berbicara mengenai Romo Mangun seperti masuk
kedalam samudra yang luas dan tiada habisnya. (hlm. v)
Romo
Suyatno Hadiatmojo mencoba merekam perjalanan hidup Romo Mangun secara apik.
Seperti disebutkan diatas begitu banyak hal yang bisa dilihat, dibahas, dan
dianalisis dari sosok Romo Mangun. Hal ini tampak dalam buku ini yang memuat
pelbagai gagasan, nasihat, kata bijak, serta ajaran yang disampaikan oleh Romo
Mangun dalam kehidupan sehari-hari.
Salah
satu pesan Romo Mangun dalam hal berjuang untuk kemanusiaan adalah: “kalau
kalian tertarik untuk terjun dalam bidang sosial-kemanusiaan, jangan
menggantungkan pada belas kasih gereja atau lembaga. Seorang pemerhati
kemanusiaan harus siap berjuang sendiri dan mandiri,” (hlm. 24)
Inilah
yang menjadi ciri khas Romo Mangun ketika berjuang untuk membela kaum lemah. Ia
tidak mau terikat oleh lembaga ataupun organisasi, karena jelas jika tergantung
pada lembaga atau organisasi tertentu pasti tidak bisa bebas dan pastinya akan
banyak dikendalikan oleh kepentingan lembaga tersebut.
Dari
kisah perjuangan Romo Mangun ini kita harus instropeksi, masih adakah orang
yang benar-benar tulus dan berkorban untuk rakyat Indonesia. Mengentaskan
kemiskinan dan kebodohan tanpa adanya pamrih? Pertanyaan ini bukan untuk
dicarikan jawaban, namun perlu dijadikan
sebuah perenungan bagi kita semua.
Kiranya
perlu bagi seluruh lapisan masyarakat untuk mengerti dan meneladani perjuangan
Romo Mangun ini. Walaupun tidak secara komprehensif mampu merekam semua
perjuanagan Romo Mangun, namun dalam buku ini sudah ada banyak pelajaran yang
bisa dijadikan pedoman hidup, entah dalam hidup bermasyarakat, berpolitik,
maupun keutamaannya dalam sikap rela berkorban, khususnya kepada mereka yang
lemah dan miskin.
*
Peresensi adalah Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
* Resensi ini pernah dimuat di Harian Jakarta
* Resensi ini pernah dimuat di Harian Jakarta
Betfair Review 2021 ✔️ Is Betfair an impartial and reliable online
BalasHapusBetfair is a gambling platform that can help you make better 아 샤벳 bets 포커 by providing more choices. For 양방배팅 this reason, many bookmakers use Betfair's 캔 토토 betting 피망 포커 현금화 software